Renungan

Menakjubkan sungguh urusan orang yang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi kecuali pada orang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi)

Jumaat, 20 Februari 2009

Pesan Untuk Teman


Siapakah teman? Mereka yang mengenal diri saya, baik secara langsung mahupun secara tidak langsung. Baik yang pernah bertatap muka, atau hanya sekadar berkomunikasi di dunia maya. Ada yang tersengih di ruang sudut sana, mengenali diri ini, namun saya belum mengenal pasti siapakah dia, mungkin dia juga adalah teman saya. Dengarkanlah pesan ikhlas dari temanmu ini.

Dedikasi Untuk Teman


Dunia ibarat roda,
berputar pada paksinya,
sisi mana pun ia berubah,
ia tidak terlepas dalam hisabNya.

Sejumlah masalah engkau taburkan,
pilihan mengeluh ataukah redha,
kerana yang pasti bukan sekadar pasrah,
namun ikhtiyar dan usaha untuk berubah,

Teman Yang Sedang Imtihan

Petang ini, saya mendapat khabar gembira. Teman akrab saya memberitahu bahawa dia telah mendapat keputusan “A” dalam peperiksaannya (bidang medic). Lebih dari itu, dia merupakan penerima “A” tunggal dari sejumlah mahasiswa lainnya. Tahniah teman. Ada yang membuat saya lebih bangga akan dirinya. Teman saya bukan saja bagus dalam pelajarannya, malah dia aktif dalam berdakwah dan menyampaikan dengan lisannya tentang kebenaran di tengah-tengah masyarakat. Berjumpa dengan patient-nya (pesakitnya), tidak lepas dengan dakwah. Berinteraksi dengan room-matenya, dia juga akan menyelitkan perbincangan umat. Di tengah-tengah komuniti kampusnya juga, dia berusaha untuk menghidupkan nuansa dakwah menuju takwa orang-orang beriman.

Bagi teman-teman yang lain, yang akan menempuh peperiksaan sama ada esok, lusa, minggu depan atau bulan hadapan... ketahuilah, bahawasanya peperiksaan tersebut bukanlah matlamat (vital issue) terbesar bagi kita sebagai hamba Allah SWT di muka bumi ini. Nasehatku, belajarlah dengan tekun dan bersungguh-sungguh agar dapat menjawab segala soalan-soalan.

Namun, ada hal lain yang perlu kalian sedari, selain peperiksaan yang kalian sedang tempuh itu. Apakah tidak terlintas di hati dan dada-dada kalian tentang tugas yang belum pernah selesai sejak kalian menjadi manusia yang berakal?

Teman Yang Sedang Bekerja

Saya pernah bekerja mulai dari jam 6 pagi. Bangun pagi seawal 5 pagi, solat subuh, lalu bingkas menerjah kabus pagi menuju Ibu Kota. Selesai kerja, sekitar jam 12 tengah hari. Setelah itu, sambung masuk kerja sebagai banquet di Hotel 5 Bintang. Semuanya adalah semata-mata untuk mencari nafkah yang halal. Penat, letih, capek... semua kalimat tersebut belum dapat menggambarkan situasi saya pada saat itu. Badan yang lemah, fikiran yang selalu tidak fokus, kerana waktu yang hanya dipenuhi dengan tuntutan materi. Memori itu, belum pernah pudar, kerana ia baru berlaku 6 tahun lalu setelah selesai menduduki peperiksaan SPM.

Bagimu teman, yang sedang melalui hal yang sama saat ini. Janganlah sedih, gusar dan punah hati. Apatah lagi berasa kecewa dengan apa yang kalian hadapi. Di sisi lain, janganlah kalian fikir, bahawa kerja dan pangkat yang kita miliki di dunia ini adalah kekal, kerana ia hanyalah bersifat sementara. Saya jadi teringat lirik nasyid yang pernah bersenandung dalam diari hidup saya satu ketika dulu, tanpa saya ketahui siapakah penyanyinya;

Hidup di dunia
Banyak pancaroba
Mujahadah kerana-Nya ....

Lagu ini benar! Hidup di dunia memang banyak pancaroba. Sana sini, masalah. Dalam sepuluh perkara, mungkin hanya satu perkara suka, dan selebihnya adalah duka. Kalaupun ada 9 perkara suka, dan yang satunya duka, mungkin hanya untuk segelintir manusia. Kadang-kadang, jarang-jarang.

Wahai teman yang sedang struggle bekerja, apakah kalian pernah berfikir, apakah mujahadah terbesar sebagai hamba Allah di muka bumi ini?

Teman Yang Sedang Dalam ‘PeNCaRiaN’

Satu hari, setelah selesai solat, saya membuat para pelajar saya merasa kaget sebentar, dek kerana gaya tazkirah yang agak berbeza dari saya dengan para ustaz yang lain. Membuat manusia berfikir, itu adalah salah satu gaya dan karakter saya.

“Aiyuhas Syabab, Anak-anak dan adik-adikku sekalian. Bayangkanlah, suatu ketika kalian daripada rumah menuju ke sebuah hotel yang sangat mewah berstatus 10 Bintang (ada ke?). Kalian mempunyai objektif dan cita-cita yang hendak diraih apabila menjejakkan kaki ke dalam hotel. Mungkin saja, kalian ingin menikmati percutian yang mewah dengan pelbagai kemudahan yang ada di dalam hotel tersebut. Kolam renang yang asyik untuk kita renangi. Makanan dan minuman mewah khas untuk orang kaya sejati (haha). Terserah kalian mahu apa untuk ke sana.”

“Tapi... tatkala kalian melangkah masuk ke dalam hotel...jeng, jeng, jeng... Keadaan hening. Gelap dan malap. Lampu di dalam hotel tidak berfungsi. Entah kenapa (walau tak logik, buat-buat logik). Bayangkan ketika kalian berjalan di dalamnya, apakah mudah untuk mencapai segala benda yang diingini, cita-cita yang hendak diraih semuanya tadi? Tap! kaki tersandung. Aduh! kepala terhantuk. Hah! Langkah kita dihentikan seketika. Mengapa sedemikian sukar untuk menunaikan hajat dan cita-cita yang diimpikan?”

Apakah cita-cita seorang yang beriman? Tentu saja untuk meraih jannah yang kekal abadi. Dan apa yang pasti, jannah tidak dapat diraih, tatkala kita tidak dapat melihat jalan untuk menempuhnya. Kita berasa gelap melihat liku-liku kebenaran. Kita menjustifikasikan segala kebenaran dengan alasan konyol yang tidak berandal. Kalian beralasan sukar apabila disahut. Kalian beralasan lambat dan retorik, padahal jalan itulah yang ditempuh para nabi. Segala macam alasan yang kalian utarakan tersebut bukanlah bukti kesungguhan kalian untuk mencari kebenaran sebenarnya, melainkan hanyalah bukti kalian untuk menjauh dari hakikat kebenaran sejati.

Pesanan Terakhirku

Allah SWT menciptakan alam semesta berserta segala isinya dengan rahmat dan kasihnya. Allah SWT juga ‘bertitah’ di dalam al-quran dengan kalam sucinya dengan aturan lengkap sebagai manual bagi sekalian hambanya. Namun, kenapakah masih banyak manusia yang memilih manual selain manual dari Sang Pencipta? Ketika syaitan bersenandung dengan bisikannya, tidak ketinggalan para pengemban dakwah yang ikhlas menuangkan citra kasih dan sayangnya melalui dakwahnya. Tinggal kalian saja yang memilih, sama ada memilih bisikan syaitan ataukah menerima risalah suci kalam ilahi? memilih sesat dalam gelap gelita atau berpedoman dengan Al-quran dan sunah?

Wahai teman yang sedang dalam imtihan, sedang bekerja dan... yang sedang dalam ‘pencarian’, mulakanlah dengan mempersoalkan iman kalian. Berfikir dan merenung tentang kejadian alam, adalah kunci kepada keimanan yang benar (yang rasional). Apakah mungkin Tuhan Sang Perkasa, menciptakan manusia dengan sia-sia tanpa adanya pedoman? Tentu saja tidak! Oleh sebab itu, kita punya rasul sebagai ikutan dan panutan dalam segala hal.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)

Wallahu’alam...

Read More..

Khamis, 19 Februari 2009

Seperti Makan Nasi

Beberapa bulan lalu, saya ke Bandung menziarahi teman baik saya. Selama seminggu saya di sana. Perasaan berada di sana memang sangat teruja dan gembira. Apa tidaknya, di samping dapat berjumpa dengan teman lama, saya juga dapat merasai suasana kehidupan di negeri orang. Ia memang luar biasa. Iklim yang sejuk, kultur budaya dan sosialnya yang berbeza daripada tanah air Malaysia sungguh sangat memberi inspirasi.

Oleh kerana teman saya agak kesibukan dengan acara pernikahan adiknya. Jadi, teman saya memperkenalkan saya dengan seorang teman akrabnya yang tahu seluk belok kota Bandung. Dengan harapan, agar kehadiran saya di situ, tidaklah sia-sia dan terabai. Wahai teman, kalaupun engkau tidak melakukan hal itu, aku maklum akan kondisi kalian.

Ada suatu perkara yang menarik untuk dikongsikan. Tanpa menokok tambah, saya Cuma berharap perkongsian ini, dapat memberi sedikit cetusan pemikiran bagi mereka yang seenaknya dalam melakukan perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT. Teman kepada teman saya ini (istilah yang pelik lagi), membuat saya kagum dengan dialognya yang benar-benar rasional dan menggugah akal.

Pagi itu, kami bangun agak telat, tetapi masih sempat untuk melaksanakan kewajipan solat. Kami keletihan, kerana hari sebelumnya kami berjalan (bersiar-siar) sehari suntuk. Dalam pada itu, Abdul (nama teman kepada teman saya) sempat berkomentar singkat tatkala kami ngobrol sambil menonton televisyen (program rancangan di sana, sangat beragam). Komentarnya begini, “Solat ni, dah menjadi satu perkara yang wajib, seperti mana wajibnya manusia itu untuk makan. Saatnya makan, tentu manusia itu perlu makan. Begitu juga dengan solat, ia sudah seperti rutinnya manusia untuk makan. Tidak perlu disuruh, apalagi dipaksa untuk melakukannya. Kalau tidak makan, manusia yang akan rugi dan memudaratkan dirinya sendiri. Hmm... benar juga ya! Kalau tidak solat, bukan sahaja tidak tenang (kerana kita tahu akan kewajipan tersebut), bahkan di akhirat kelak kita bakal diazab di dalam api neraka. Nau’dzubillah Min Dzalik.

Walaupun kiasan tersebut agak mirip sama, namun ia hanya sama dari sudut praktikal dan aplikasinya dalam kehidupan kita. Namun, tidak pada dasarnya. Ini kerana, manusia memang perlu makan untuk meneruskan kehidupan (survival). Tetapi, manusia masih boleh meneruskan kehidupan tanpa perlu solat. Orang yang berideologi kapitalis juga solat, tapi mungkin mengambil agama Hindu dan Budha sebagai pilihan. Sam Harris (pengarang buku The End Of Faith) di dalam bukunya mengecam agama, kerana baginya agama hanya memecahbelahkan manusia. Manusia bersengketa hanya atas nama kebenaran yang diyakininya. Namun, Sam Harris tetap masih boleh hidup tanpa adanya keyakinan pada sesuatu agama, dan begitu juga dengan para penganut ateisme yang lain.

Bagi seorang muslim yang beriman, tentu saja di tahu bahawa dia solat adalah semata-mata hendak meraih manfaat spiritual (qimah ruhiyah), dan bukan manfaat kebendaan (qimah madaniyah). Orang yang beriman melaksanakan solat adalah kerana dia atas dasar kesedaran akidah yang diyakininya. Lalu, dengan keyakinan tersebut, akan melahirkan satu persepsi yang menyeluruh termasuklah tentang keyakinannya terhadap salah satu kewajipan terbesar sebagai seorang muslim iaitu bersolat. Tidak dinafikan, apabila kewajipan itu terlaksana secara berterusan (dalam waktu yang agak lama), maka ia akan menghasilkan satu perkara rutin, yang mana kita akan merasa tidak selesa jika tidak melaksanakannya. Ia berlaku pada saya. Ketika saya melaksanakan segala apa jua amalan dan aktiviti, hati saya berasa tidak tenang jika solat masih belum dilaksanakan. Hatta, jika kita lupa untuk melakukannya, kita akan secara automatik ingat kerana ia sudah menjadi satu aktiviti yang kita lakukan secara istiqamah.

Ada satu kisah mengenai seorang sahabat lain yang sangat peka terhadap setiap seruan Allah. Saat itu dikisahkan seorang sahabat hendak memakan sebiji kurma, lalu tiba-tiba datanglah seruan untuk berperang. Apa yang dilakukan sahabat tersebut? Dia membuang kurma yang hendak dimakannya tadi dan segera pergi ke medan jihad. Sahabat tersebut berkata, “Terlalu lama jika aku harus menunggu kurma ini habis lalu pergi berjihad.”

Apakah kalian rela makan nasi, tapi dalam waktu yang sama meninggalkan kewajipan solat dan kewajipan lain yang telah Allah SWT taklifkan?

atau,

Apakah kalian tidak rela perut kalian lapar, tapi di sisi lain rela meninggalkan larangan yang telah Allah SWT tetapkan!

Fikirkan! Adakah kalian merasakan nasi lebih penting daripada kewajipan lainnya?

Wallahu’alam...

Read More..

Ahad, 15 Februari 2009

Selamat Tinggal Valen

Ketika penulis sedang menulis artikel ini, hari agung bagi para kekasih dan para pencinta picisan telah ditinggalkan. Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelum ini (Roman Picisan Bulan Februari). Dari pengamatan dan perenungan dalam beberapa hari ini, nampaknya masih banyak yang terkena bius cinta yang datang dari barat ini. Cinta yang disodorkan oleh barat, sangat laris ‘dibeli’ oleh umat manusia, termasuklah umat islam, khususnya para remaja yang tidak tahu akan keharaman menyambut perayaan ini. Dari hari ke hari, para pemuja cinta yang lebih famous dengan istilah couple ini, terus terjebak dengan manisnya kata-kata, tenggelam dengan aliran sastera karya agung yang berbasis cinta.

Sedikit perkongsian, seorang teman kepada teman saya (wow, macam berbelit je), telah menyalin satu ungkapan bahasa yang ada di dalam majalah sekolahnya untuk diberikan kepada teman lelakinya (boyfriend). Jika kalian membacanya, tentu akan meremang seketika. Isinya begini:

“Kalau bulan lesu di malammu mentari akan redup di siangku kalau bunga layu di tangkaiku daun akan kuncup di rantingmu kalau pulaumu merapat ke daratanku hulumu akan mendekat ke muaraku Kalau kau angin luka akulah bukit pasir tempat kau membaringkan lara kalau aku ombak gundah kaulah beting pasir tempat aku menggulingkan gulana kalau tiba musim gelora di manakah pula angin dan ombak hendak bermanja? Jika ada sebuah taman biarlah aku menjadi bangku dan kaulah itu serumpun bambu tumbuh rendang meneduhiku kalau ada sebuah tasik kaulah perahu kecil berlabuh tenang di tambatanku apakala tiba waktu senja lembayung indah itu kita yang mewarnakannya.”

Terserah kalian mahu berkata apa. Tapi itulah hakikatnya. Para pelajar di sekolah pun disajikan dengan kata-kata puitis sebegini yang langsung tidak membina pemikiran dan akhlak sebagai seorang muslim. Lebih teruk dari itu, pelajar itu telah menukilkan satu tulisan yang lebih roman dari itu:

“Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta ke dalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.”

Aduh, jadi pening memikirkannya.

Bukalah Mata Anda!

Seperti yang saya bicarakan sebelum ini, bahawa saya tidak berniat untuk membahaskan Hari Kekasih ini dalam perbincangan fiqih, kerana umum mengetahui tentang keharamannya. Tetapi saya ingin membawa para pembaca agar melihat suatu peristiwa yang berlaku, dalam skop pemikiran ideologi islam. Iaitu dengan memandang setiap permasalahan dengan sudut kenapa dan mengapa masalah itu berlaku, serta apa yang sepatutnya yang dilakukan oleh umat islam apabila ditimpa permasalahan yang segudang banyaknya di kancah kehidupan.

Secara kasarnya, masyarakat dunia khususnya di Malaysia, hanya terfokus dengan isu-isu yang dipropagandakan di media masa dan publik semata. Mereka tidak memandang, membuka mata dengan lebih luas ketika melihat permasalahan yang berlaku di seluruh dunia, khususnya yang berkaitan tentang umat islam. Saya beri contoh yang mudah; umat islam akan terfokus dengan isu murtad satu ketika dulu, manakala isu Palestin terlupakan. Kini, isu Palestin memuncak kembali, dan isu murtad kembali surut dari perbincangan dan agenda semasa. Begitulah seterusnya, apabila suatu isu naik, isu lain pula turun. Satu itu panas, isu yang lain pula sejuk.

Guys, sesungguhnya umat yang pernah menjadi umat yang digeruni oleh segenap pelosok dunia, baik kawan mahupun lawan, kini menjadi sejarah yang hanya bersifat dongeng. Sejarah yang mengagumkan tersebut hanya dibaca, tanpa difikirkan kembali mengapa pada saat ini, umat terbaik tersebut menjadi umat yang terbelakang. Bukan itu sahaja, mereka tidak pernah berfikir bagaimana caranya untuk mengembalikan semula kegemilangan tersebut. Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Imran[3]: 110)

Percayalah, bahawa janji Allah SWT pasti terjadi. Tapi harus diusahakan, bukan dibiarkan. Sepertinya halnya jodoh, kita bukan hanya berdiam diri, lalu sang bidadari muncul di kala sepi. Begitu juga dengan ketentuan yang akan berlaku ke atas kaum muslimin yang berupa kemuliaan dan rahmat ke atas mereka, sesudah mereka menjadi umat yang terbaik. Perlu adanya satu kelompok yang ikhlas untuk mengemban dakwah islam, agar islam diterapkan secara keseluruhan (kaffah) di dalam kehidupan.

"(Dan) hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan, iaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Ali-Imran[3]: 104)

Mengubah semua apa yang disebutkan tadi haruslah dimulai oleh satu kelompok yang sedar (parti politik) akan tanggungjawab untuk mengemban dakwah di dalam masyarakat. Maka dalam hal ini, kelompok dakwah yang menyeru masyarakat ini haruslah mempunyai ciri-ciri khas agar mereka tidak hanyut oleh mainan politik yang ada, yang justeru akan mengakibatkan kelompok tersebut hilang ruhnya sebagai pembangkit umat. Ciri-ciri khas tersebut adalah:

Pertama, kelompok islam itu harus mempunyai fikrah (thought) islam untuk membangkitkan umat. Fikrah ini tidak boleh tercemari oleh fikrah-fikrah lain selain islam yang akan menghilangkan kemurniaan fikrah islam itu sendiri. Fikrah-fikrah yang sesat dan dilarang di dalam islam seperti sekularisme, pluralisme, demokrasi, HAM, separatisme dan lainnya haruslah ditangkis dan dijauhkan dari kelompok pembangkit (hizb an-nahdhah).

Kedua, mempunyai thariqah (metode) perjuangan yang jelas untuk membangkitkan umat dan mengharungi liku-liku perjuangan. Fikrah dan thariqah ini haruslah menyatu dan digenggam erat oleh kelompok islam tersebut tanpa adanya kompromi, walaupun secara lumrahnya bahawa parti islam akan dihadapkan oleh berbagai-bagai macam tawaran yang menggiurkan dan mengghairahkan. Dalam hal ini, kita haruslah melihat contoh agung sepanjang zaman iaitu Rasulullah saw. Beliau menolak tawaran kompromi kafir quraisy dengan sabdanya yang tegas, “Wahai paman, demi Allah, seandainya matahari diletakkan di tangan kanan-ku dan rembulan di tangan kiri-ku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini. Aku tidak akan meninggalkannya hingga agama ini tegak atau aku mati kerana-Nya (membelaNya).

Ketiga, kelompok islam tersebut harus diemban (diperjuangkan) oleh orang-orang yang benar-benar sedar akan tanggungjawab (berdakwah) ini serta mereka haruslah mengenal fikrah dan thariqah perjuangan kelompok islam tersebut.

Keempat, anggota-anggota yang ada di dalam kelompok islam haruslah terikat oleh ikatan yang kuat dan benar sehingga mereka tidak mudah goyah dan berpecah. Ikatan yang kuat di antara anggota-anggota para pengemban dakwah inilah yang akan memperkuatkan lagi perjuangan di dalam kutlah (kelompok) tersebut.

(Taqiyuddin An-Nabahani – At-Takatul Hizbi)

Menuju Kebangkitan Yang Hakiki


Oleh itu, saya menyeru kepada seluruh kaum muslimin, agar melihat segala permasalahan yang berlaku di seluruh dunia ini dengan perspektif ideologi islam, dan bukan emosi belaka. Janganlah kita menjadi lalang yang mudah goyah, atau menjadi buih di atas lautan, yang jumlahnya banyak tetapi langsung tidak menggetarkan musuh-musuhnya. Sesungguhnya umat yang terbaik yang dijanjikan oleh Allah SWT ini pasti akan wujud kembali, setelah kita menolong agamaNya dengan mengemban dakwah di tengah-tengah umat, dan bukan menjadi orang yang hanya ‘look and see’, tanpa adanya kontribusi bersama.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad[47]: 7)

Wallahu’alam…

Read More..

Sabtu, 14 Februari 2009

Mengukur Keberanian “Mahasiswa” untuk Melakukan Perubahan!!


Perubahan adalah sesuatu yang lumrah. Tidak mungkin wujud suatu keadaan yang berjalan secara statik (tetap) di dunia ini, malah yang dikatakan tetap itu sebenarnya adalah gejala perubahan itu sendiri. Falsafah Yunani kuno mengungkapkan, semua makhluk sentiasa berterusan berubah, tercipta dan lenyap. Namun kadangkala seseorang berpandangan bahawa perubahan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mengapa? Mitos mengatakan bahawa perubahan merupakan penyimpangan daripada sistem dan kebiasaan. Mitos juga menjelaskan bahawa kejadian destruktif (kerosakan) kadangkala berlaku kerana perubahan (R.H. Lauer: 1993), sehingga perubahan dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Padahal perubahan tidak selalu diidentitikan dengan tindakan destruktif.

Perspektif Revolusi (Perubahan pengaturan Politik, Ekonomi dan Sosial secara menyeluruh dan mendasar)

Mentaliti yang penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa adalah Sense of Crisis, iaitu mentaliti yang sentiasa melihat dan mengambil tahu keadaan masyarakat (kampus dan masyarakat luar) dan norma yang telah rosak. Terang lagi bersuluh bahawa kemaksiatan sangat bermaharajarela dalam kehidupan masyarakat hari ini begitu juga dalam sistem kehidupan sosial dan bernegara. Agama seringkali dianggap sebagai penghias hidup sahaja, sehingga lahirlah cara hidup yang sekular (jauh dari nilai Islam). Secara ringkasnya, timbulnya seribu satu permasalahan kerana pengaturan kehidupan berekonomi yang kapitalis, perilaku berpolitik yang oportunis, budaya hidup yang hedonis, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, nilai-nilai agama yang sinkreteis dan sistem pendidikan yang materialistik.

Dalam pengaturan kehidupan berekonomi yang kapitalis, roda ekonomi digerakkan sekadar untuk meraih keuntungan tanpa menimbang adakah ianya sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Syariat Islam yang sebenar tidak diendahkan kerana dianggap sebagai pembantut ekonomi. Sementara itu, politik yang oportunis, ialah aktiviti politik yang tidak berorientasikan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, melainkan sekadar meraih kuasa dan kepentingan “sempit” lainnya. Manakala, budaya hedonisme, merupakan budaya yang dikembangkan sebagai ekspresi pemuas nafsu dan untuk kelihatan bermegah-megah dan sama sekali tidak didasarkan syariat Islam. Dalam hal ini Barat telah menjadi kiblat “kemajuan budaya” sebagai sesuatu yang harus dicontohi oleh bangsa lain.

Sementara itu sikap beragama yang sinkreteis telah meracuni sebahagian umat Islam sehingga terjerumus dengan pandangan yang memandang rendah, tidak menyukai, malah memusuhi syariat agamanya sendiri. Sebagian umat Islam telah lupa seruan Allah swt bahawa hanya Islam sahaja agama (cara hidup) yang diredhai-Nya. Akhir sekali, sistem pendidikan yang berwahana materialistik terbukti tidak mampu membentuk manusia yang berakhlak soleh yang sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan ini lengkaplah kerosakan yang dihadapi oleh umat.

Dalam arus perubahan dunia yang semakin global dan tenggelamannya nilai-nilai kemanusiaan, maka pelbagai usaha diperlukan untuk mengubah aturan peradaban kepada yang lebih baik iaitu dengan mengembalikan setiap sistem kehidupan hanya kepada Islam, diatur dan ditata oleh Islam sahaja!

Revolusi Pemikiran: Keberanian Berfikir Secara Mendasar

Mahasiswa dipandang sebagai pemuda elit yang mempunyai keberanian untuk bersikap tegas. Asas pemikiran Barat yang tidak dibimbing dengan nilai-nilai ruhiyah, merupakan bentuk pemikiran yang tidak patut dipraktiskan oleh mahasiswa muslim. Kebangkitan pemikiran yang benar dan membawa kesejahteraan, adalah konsep berfikir yang dibimbing oleh Zat yang menciptakan manusia, yang Maha tahu segala sesuatu yang baik dan sesuai dengan fitrah manusia di dalam kehidupan ini.

Jika tidak, pelbagai gelaran yang gah yang mengangkat martabat mahasiswa hanya merupakan ukuran over estimate terhadap posisi dan peranan mahasiswa. Mahasiswa dikatakan sebagai Agen perubahan (Agent of Change); salah satu elemen yang mengendalikan urusan masyarakat (Social Control); himpunan kekuatan moral (Moral Force); kuasa perubahan politik (political force) dan lain-lain. Tetapi ironisnya, kenapa sampai sekarang pergerakan mahasiswa ternyata mandul dalam melakukan revolusi dalam menuju revolusi yang sebenarnya?!

Jadi, terlebih dahulu mahasiswa harus melakukan revolusi pemikiran. Yang diharapkan daripada revolusi pemikiran ini adalah perubahan mendasar cara berfikir yang menuju ke arah kebangkitan yang sebenar iaitu kebangkitan Islam, bukan mengarah kepada memper-tahankan kondisi yang sedia rosak dengan sekadar menampal-nampal kerosakan tersebut dan dibalut dengan wallpaper yang indah untuk menutup kecacatannya. Oleh kerana itu, keberanian kita untuk berfikir lebih mendasar (bukan atas keegoan, kepentingan dan asas kemanfaatan belaka) akan memberikan pandangan yang kritis dan fundamantel bahawa kita harus melakukan perubahan yang bukan hanya untuk memperbaiki kehidupan saat ini saja, tetapi untuk membentuk sistem kehidupan yang kukuh dan sejahtera bagi umat manusia secara keseluruhannya.

Refleksi dari terwujudnya keadaan dan sistem hidup yang sejahtera bagi umat manusia dalam segenap aspek kehidupan adalah dengan tertegaknya syariat Islam secara menyeluruh dari sekecil-kecil perkara hingga membantasi sempadan negara. Perjuangan yang sama dirintis oleh Rasullullah dan gerakan para sahabat yang rata-rata berusia muda. Mudah-mudahan mahasiswa sedar dan berani melakukannya

Read More..

Khamis, 12 Februari 2009

‘Pening’ Seorang Sahabat


Seperti kebiasaannya, hari ini saya ditemani oleh seorang sahabat berbincang-bincang (secara online), diskusi, ‘debat’, dan berkongsi segala hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman harian dan dakwah (sahabat saya tu pun, tengah membaca artikel ni sekarang, haha). Ada hal yang memprihatinkan dia, sehingga perlu diluahkan kepada saya berkenaannya. Hari ini (11/2/2009), dia mendapatkan pengalaman yang ‘membengangkan’ dan sekali gus mempengaruhi emosinya (dia demam hari ni). Semuanya berkisar tentang pengalamannya semasa bertugas di hospital. Apa yang berlaku, memang di luar dugaan (tidak pada saya, haha). 2 orang adik-beradik berzina (patient-nya), dengan alasan yang tidak masuk akal. Ayah mereka yang mengajar katanya, untuk menunjukkan kasih sayang (bangsat betul si ayah ni!). Si Ibu tidak dapat menerima kenyataan, dan akhirnya masuk rumah sakit jiwa. Si bangsat plak (hah, kan dah emosi), masuk lokap. 2 beradik tu pula dimasukkan ke dalam wad psikiatri untuk ‘dibrain wash’ semula paradigma iblis yang ada di dalam pemikiran mereka.

Bukan setakat itu, ada kes yang lebih parah (semua parah sebenarnya) dari itu. Seorang wanita muslim berumur 14 tahun mengandung anak luar nikah. Orang tua kepada lelaki, menawarkan wang yang lumayan (teka sendiri berapa) kepada orang tua wanita, agar anaknya menggugurkan kandungan. Tapi ditolak oleh pihak wanita, kerana menuntut lebih dari itu (wow, jual manusia lebih untung dari jual unta!). Akhirnya, kes ini lebih rumit, apabila ia dijadikan kes sebagai ugutan oleh pihak lelaki. Patutlah pening betul sahabat saya ni.

Saya Yang Tidak ‘Pening’

Sahabatku, tahukah anda bahawasanya hari ini ada ‘sesuatu’ yang berlaku ketika saya mengajar di sekolah. Anak-anak murid saya semuanya kelihatan comel-comel belaka, ditambah dengan sifat lucu mereka. Memang penambat hati seorang lelaki bujang (yang berhasrat untuk menikah, haha). Tidak dinafikan, memang ada kalanya mereka nakal, dan menguji kesabaran saya sebagai manusia biasa. Tapi, itu perkara biasa. Hari ini, seorang anak murid saya, bertanya kepada saya sesuatu yang tidak saya jangkakan:

“Ustaz, sembahyang tu wajib kan?”,

“Ye lah sayang (panggilan manja untuk diorang ni), memanglah wajib”.

“Tapi, ayah saya tak sembahyang kalau kat rumah. ayah cuma sembahyang, masa sembahyang Jumaat je.” (bahasa kanak-kanak memang macam ni)

Lalu, saya rapatkan dia pada saya, dan cium dahinya, kerana terharu dan bangga dengan secebis pemikiran yang ada pada dirinya. Saya katakan padanya:

“Fatihah, mungkin ayah sembahyang di dalam bilik. Tapi, Fatihah tak nampak. Atau, ayah sembahyang di tempat kerja. Macam mana Fatihah tahu ayah tak sembahyang pulak.”

“Taklah ustaz, kalau Fatihah bangun pagi-pagi, ayah tak bangun lagi. Ayah masih tidur, tak sembahyang. Tapi, emak sembahyang.”

Bidadari ataukah manusia, anak kecil di hadapan saya ini? Wajahnya yang lugu, kilauan matanya yang jernih, lebih jernih dari embun di pagi hari. Wajahnya yang sayu dan bersungguh-sungguh, menambahkan kekaguman saya padanya. Ya Allah, anugerahkan hambamu ini seorang anak, yang boleh menegur saya kelak, tatkala saya melakukan penyimpangan dari jalanMu yang lurus.

“Fatihah... Fatihah anak yang baik. Nanti balik, Fatihah kena cakap dengan ayah baik-baik tau. Jangan cakap yang tak elok, sebab berdosa nanti. Fatihah cakap macam ni, - Ayah, ustaz di sekolah Fatihah cakap, sembahyang tu wajib untuk semua orang islam, dan kalau tak buat berdosa.” Cakap macam tu ye sayang?

“Baik ustaz.”

Sebuah Penalaran

Guys dan sahabatku, situasi di atas masih dalam kategori normal bagi saya (dalam sistem sekarang ni). Orang tua menyekolahkan anak ke sekolah agama, agar anaknya dididik dengan didikan agama. Pada waktu yang sama, mereka pula yang tidak memahami agama dengan sebaiknya. Bukankah salah tanda kerosakan adalah ketika solat mula ditinggalkan oleh penganutnya. Lalu, di mana lagi hendak diletakkan kemuliaan, ketika penganutnya sendiri tidak melaksanakan aturan agama!

Benarlah apa yang dikau katakan padaku wahai sahabatku. Ketika berlaku kes zina (merujuk kes di atas), apa yang disibukkan bukanlah soal hukum agama, melainkan soal manfaat lainnya. Itu perkara biasa, janganlah dikau pening kerananya. Tetaplah menjalankan tugasmu sebagai pengemban dakwah, dan mencermati segala apa yang berlaku di sekelilingmu.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dulu aku dapat melihat?". Dia (Allah) berfirman: "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan". (QS Thaha[20]: 124-126)

Begitulah ungkapan Tuhan kepada kita. Apa yang berlaku di depan mata kita adalah dikeranakan umat manusia kini sudah banyak yang berpaling dari ajaranNya. Saya teringat kata-kata seorang sahabat saya satu ketika dulu. Dia berkata begini, “Dahulu, budaya couple ni, dianggap tabu. Lalu dibiarkan, dan akhirnya menjadi biasa. Zina pula, dahulu dianggap tabu, dan sekarang hampir menuju status biasa.” Sahabatku, anda BENAR!

Tidak dinafikan, segala permasalahan yang menimpa umat manusia (termasuk non-muslim), adalah disebabkan tidak diterapkannya sistem yang benar. Saya jadi teringat soalan seorang penanya di dalam satu ruangan diskusi. Dia bertanya begini, “Apakah standard yang hendak digunakan oleh kita untuk menentukan sesuatu yang benar?”. Lalu, dijawab dengan tenang oleh sahabat saya, “Ya, standardnya mestilah yang benar dari yang Maha Benar.”

Benar dari Yang Maha Benar. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala saya. Aturan siapa lagi, kalau bukan aturan dari Allah SWT yang dimaksudkan oleh sahabat saya itu. Kecelakaan, kebinasaan dan kehinaan yang menimpa umat islam saat ini, adalah kerana tidak diterapkannya aturan Allah SWT di muka bumi secara menyeluruh (kaffah). Tidak dapat dipungkiri, bahawasanya seluruh dunia kini, telah didominasi oleh sistem kufur ciptaan akal-akal manusia. Yang baik bagi akal mereka, diambil. Yang buruk bagi nafsu mereka, ditolak serta-merta.

Setiap kejadian ada sebab akibatnya (sababiyah). Ia tidak terjadi secara magik dan di luar fitrah, kecuali mukjizat agung dari Ilahi (itu tidak dapat dipertikaikan). Justeru dari itu, setelah kita ketahui, bahawasanya keburukan yang menimpa umat manusia saat ini adalah kerana tidak diterapkannya sistem islam secara kaffah. Maka dari itu, kita harus berusaha (secara kolektif) untuk berjuang menegakkan kembali sistem islam yang telah ditinggalkan oleh umat islam sejak diruntuhkannya oleh Mustafa Kamal At-Tartuk La’natullah Alaih. Kebaikan, kesejahteraan dan kemuliaan akan menimpa umat yang terbaik ini setelah mereka melakukan tugas-tugasnya menyeru umat manusia untuk kembali menjadikan islam sebagai satu-satunya rujukan dalam segala aspek.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Imran[3]: 110)

Wallahu’alam...

Read More..