Renungan

Menakjubkan sungguh urusan orang yang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi kecuali pada orang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi)

Ahad, 15 Februari 2009

Selamat Tinggal Valen

Ketika penulis sedang menulis artikel ini, hari agung bagi para kekasih dan para pencinta picisan telah ditinggalkan. Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelum ini (Roman Picisan Bulan Februari). Dari pengamatan dan perenungan dalam beberapa hari ini, nampaknya masih banyak yang terkena bius cinta yang datang dari barat ini. Cinta yang disodorkan oleh barat, sangat laris ‘dibeli’ oleh umat manusia, termasuklah umat islam, khususnya para remaja yang tidak tahu akan keharaman menyambut perayaan ini. Dari hari ke hari, para pemuja cinta yang lebih famous dengan istilah couple ini, terus terjebak dengan manisnya kata-kata, tenggelam dengan aliran sastera karya agung yang berbasis cinta.

Sedikit perkongsian, seorang teman kepada teman saya (wow, macam berbelit je), telah menyalin satu ungkapan bahasa yang ada di dalam majalah sekolahnya untuk diberikan kepada teman lelakinya (boyfriend). Jika kalian membacanya, tentu akan meremang seketika. Isinya begini:

“Kalau bulan lesu di malammu mentari akan redup di siangku kalau bunga layu di tangkaiku daun akan kuncup di rantingmu kalau pulaumu merapat ke daratanku hulumu akan mendekat ke muaraku Kalau kau angin luka akulah bukit pasir tempat kau membaringkan lara kalau aku ombak gundah kaulah beting pasir tempat aku menggulingkan gulana kalau tiba musim gelora di manakah pula angin dan ombak hendak bermanja? Jika ada sebuah taman biarlah aku menjadi bangku dan kaulah itu serumpun bambu tumbuh rendang meneduhiku kalau ada sebuah tasik kaulah perahu kecil berlabuh tenang di tambatanku apakala tiba waktu senja lembayung indah itu kita yang mewarnakannya.”

Terserah kalian mahu berkata apa. Tapi itulah hakikatnya. Para pelajar di sekolah pun disajikan dengan kata-kata puitis sebegini yang langsung tidak membina pemikiran dan akhlak sebagai seorang muslim. Lebih teruk dari itu, pelajar itu telah menukilkan satu tulisan yang lebih roman dari itu:

“Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta ke dalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.”

Aduh, jadi pening memikirkannya.

Bukalah Mata Anda!

Seperti yang saya bicarakan sebelum ini, bahawa saya tidak berniat untuk membahaskan Hari Kekasih ini dalam perbincangan fiqih, kerana umum mengetahui tentang keharamannya. Tetapi saya ingin membawa para pembaca agar melihat suatu peristiwa yang berlaku, dalam skop pemikiran ideologi islam. Iaitu dengan memandang setiap permasalahan dengan sudut kenapa dan mengapa masalah itu berlaku, serta apa yang sepatutnya yang dilakukan oleh umat islam apabila ditimpa permasalahan yang segudang banyaknya di kancah kehidupan.

Secara kasarnya, masyarakat dunia khususnya di Malaysia, hanya terfokus dengan isu-isu yang dipropagandakan di media masa dan publik semata. Mereka tidak memandang, membuka mata dengan lebih luas ketika melihat permasalahan yang berlaku di seluruh dunia, khususnya yang berkaitan tentang umat islam. Saya beri contoh yang mudah; umat islam akan terfokus dengan isu murtad satu ketika dulu, manakala isu Palestin terlupakan. Kini, isu Palestin memuncak kembali, dan isu murtad kembali surut dari perbincangan dan agenda semasa. Begitulah seterusnya, apabila suatu isu naik, isu lain pula turun. Satu itu panas, isu yang lain pula sejuk.

Guys, sesungguhnya umat yang pernah menjadi umat yang digeruni oleh segenap pelosok dunia, baik kawan mahupun lawan, kini menjadi sejarah yang hanya bersifat dongeng. Sejarah yang mengagumkan tersebut hanya dibaca, tanpa difikirkan kembali mengapa pada saat ini, umat terbaik tersebut menjadi umat yang terbelakang. Bukan itu sahaja, mereka tidak pernah berfikir bagaimana caranya untuk mengembalikan semula kegemilangan tersebut. Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Imran[3]: 110)

Percayalah, bahawa janji Allah SWT pasti terjadi. Tapi harus diusahakan, bukan dibiarkan. Sepertinya halnya jodoh, kita bukan hanya berdiam diri, lalu sang bidadari muncul di kala sepi. Begitu juga dengan ketentuan yang akan berlaku ke atas kaum muslimin yang berupa kemuliaan dan rahmat ke atas mereka, sesudah mereka menjadi umat yang terbaik. Perlu adanya satu kelompok yang ikhlas untuk mengemban dakwah islam, agar islam diterapkan secara keseluruhan (kaffah) di dalam kehidupan.

"(Dan) hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan, iaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Ali-Imran[3]: 104)

Mengubah semua apa yang disebutkan tadi haruslah dimulai oleh satu kelompok yang sedar (parti politik) akan tanggungjawab untuk mengemban dakwah di dalam masyarakat. Maka dalam hal ini, kelompok dakwah yang menyeru masyarakat ini haruslah mempunyai ciri-ciri khas agar mereka tidak hanyut oleh mainan politik yang ada, yang justeru akan mengakibatkan kelompok tersebut hilang ruhnya sebagai pembangkit umat. Ciri-ciri khas tersebut adalah:

Pertama, kelompok islam itu harus mempunyai fikrah (thought) islam untuk membangkitkan umat. Fikrah ini tidak boleh tercemari oleh fikrah-fikrah lain selain islam yang akan menghilangkan kemurniaan fikrah islam itu sendiri. Fikrah-fikrah yang sesat dan dilarang di dalam islam seperti sekularisme, pluralisme, demokrasi, HAM, separatisme dan lainnya haruslah ditangkis dan dijauhkan dari kelompok pembangkit (hizb an-nahdhah).

Kedua, mempunyai thariqah (metode) perjuangan yang jelas untuk membangkitkan umat dan mengharungi liku-liku perjuangan. Fikrah dan thariqah ini haruslah menyatu dan digenggam erat oleh kelompok islam tersebut tanpa adanya kompromi, walaupun secara lumrahnya bahawa parti islam akan dihadapkan oleh berbagai-bagai macam tawaran yang menggiurkan dan mengghairahkan. Dalam hal ini, kita haruslah melihat contoh agung sepanjang zaman iaitu Rasulullah saw. Beliau menolak tawaran kompromi kafir quraisy dengan sabdanya yang tegas, “Wahai paman, demi Allah, seandainya matahari diletakkan di tangan kanan-ku dan rembulan di tangan kiri-ku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini. Aku tidak akan meninggalkannya hingga agama ini tegak atau aku mati kerana-Nya (membelaNya).

Ketiga, kelompok islam tersebut harus diemban (diperjuangkan) oleh orang-orang yang benar-benar sedar akan tanggungjawab (berdakwah) ini serta mereka haruslah mengenal fikrah dan thariqah perjuangan kelompok islam tersebut.

Keempat, anggota-anggota yang ada di dalam kelompok islam haruslah terikat oleh ikatan yang kuat dan benar sehingga mereka tidak mudah goyah dan berpecah. Ikatan yang kuat di antara anggota-anggota para pengemban dakwah inilah yang akan memperkuatkan lagi perjuangan di dalam kutlah (kelompok) tersebut.

(Taqiyuddin An-Nabahani – At-Takatul Hizbi)

Menuju Kebangkitan Yang Hakiki


Oleh itu, saya menyeru kepada seluruh kaum muslimin, agar melihat segala permasalahan yang berlaku di seluruh dunia ini dengan perspektif ideologi islam, dan bukan emosi belaka. Janganlah kita menjadi lalang yang mudah goyah, atau menjadi buih di atas lautan, yang jumlahnya banyak tetapi langsung tidak menggetarkan musuh-musuhnya. Sesungguhnya umat yang terbaik yang dijanjikan oleh Allah SWT ini pasti akan wujud kembali, setelah kita menolong agamaNya dengan mengemban dakwah di tengah-tengah umat, dan bukan menjadi orang yang hanya ‘look and see’, tanpa adanya kontribusi bersama.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad[47]: 7)

Wallahu’alam…

2 comments:

Tanpa Nama berkata...

assalamu'alaykum akhiy.
i have a request: would u like to link my blog address in ur blog link menu, please.

jalin ukhuwwah akhiy...kalau antum berkenan...

jazakalloh khoyr.

:-)

from ur brothers n sisters in indonesia

www.fsiekonomi.multiply.com

in multiply u should have a multiply account if u wanna write comments but u could write them eventhough u have no mp account; just click here: http://www.users3.smartgb.com/g/g.php?a=s&i=g35-12450-e0

Tanpa Nama berkata...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!